Ketika Hades memutuskan untuk bersekutu dengan Kronos dengan mengkhianati Zeus, Hades memikirkan sebuah kenyataan pahit akan sebuah eksistensi. Hilang dan terlupakan, lalu tinggal ruang hampa yang menggema. Itu pikiran Hades saat dia memikirkan manusia yang tidal lagi berdo’a pada para dewa. Kesenangan personal, tanpa memikirkan apa yang terjadi bila titan seperti Kronos dibiarkan lepas dari penjara Tartarus.
Kebahagiaan diri sendiri, manusiawi bila semua orang menginginkannya hal tersebut. Kenyamanan sendiri, kebahagiaan sendiri, tanpa memikirkan realita yang ada di sekitar. Ketika polemik bernama kenaikan bbm menyeruak di masyarakat, hal tersebut menjadi sorotan. Aksi unjuk rasa mahasiswa dan buruh, dengan metode-metode tertentu yang kadang menimbulkan antipati banyak orang karena alasan, macet.
Memang benar, lucu rasanya bila ketika memperjuangkan kepentingan rakyat lalu mengakibatkan rakyat lain menderita. Tapi bukankah tujuan unjuk rasa adalah melumpuhkan sistem?
“Bila tidak ada yang bergerak sekarang, bayangkan rantai panjang penderitaan yang akan dirasakan rakyat.”, ujar Che Guevarra.
Che dan Fidel Castro akan ditembak mati oleh Fulgencio Batista anda saja revolusi 26 Juli gagal terwujud. Mereka mengobarkan perang yang sedikit membuat rakyat susah, tapi hasil akhirnya adalah Kuba yang lepas dari kediktatoran Batista.
Saat ini kita terjebak dalam konsepsi kritis tapi diam. Protes keras di tempat-tempat aman tapi tetap diam sebenarnya. Social media dan ruang-ruang publik penuh dengan cercaan pada sistem, namun tetap pada ego pribadi. Enggan terkena imbas dari hal yang bernama revolusi. Kita sekarang memimpikan revolusi, tanpa pernah mau mengajak revolusi itu untuk bermimpi.
Lalu dalam konsepsi mencari kebahagiaan dan kenyamanan sendiri itu, kita perlahan jadi apatis terhadap sekitar. Dalam keapatisan itu kita menjadi pengkhianat. Diri kita adalah bukan tentang kita dan orang-orang yang kita sayangi. tapi tentang semua orang yang bahkan membenci kita. Para demosntran bukanlah santo atau nabi yang tanpa dosa, bukan bidak-bidak kosong yang maju atas dasar kepentingan. Eksistensi adalah hal dasar yang dibutuhkan manusia. Dan penghargaan terbesar dari perjuangan eksistensi bukan sarkasme ataupun bintang jasa, tapi pengertian. Kritik membangun atau diam, bila hanya yang anda tahu hanya diri anda dan keluarga anda.

